Jumat, 04 Juli 2014

Sabda Nabi Nyata


Kita hidup jauh dari zaman Rasulullah SAW, tetapi kita bisa melihat akan kebenaran sabda-sabda beliau yang mudah-mudahan bisa menambah keimanan kita. Salah satunya adalah hadis sebagai berikut:

مَا أَحْدَثَ قَوْمٌ بِدْعَةً إِلَّا رُفِعَ مِثْلُهَا مِنَ السُّنَّةِ

"Tidaklah suatu kaum melakukan suatu bid’ah, kecuali akan terangkat Sunnah yang semisal dengannya." (HR Ahmad)

Mari kita buktikan kebenaran hadis di atas dengan mengunjungi masjid-masjid yang dikelola ahlul bid’ah dan masjid-masjid yang dikelola kaum anti bid’ah. 

Umumnya masjid-masjid yang dikelolala kaum ahlul bid’ah, sebelum shalat jamaah mereka melakukan puji-pujian (nyanyi-nyanyian) dan setelah shalat mereka melakukan wirid berjamaah, yang kedua hal tersebut tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para shahabat. Dan akan kita jumpai di masjid-masjid ahlul bid’ah tersebut, umumnya imam shalat tidak melakukan apa yang disunnahkan Rasulullah SAW yaitu imam menghadap ke makmum dan mengaturnya, mengingatkan jamaah untuk meluruskan dan merapatkan shaf, dan yang disunnahkan Rasulullah SAW setelah selesai shalat yaitu imam menghadap ke makmum. Umumnya kedua sunnah tersebut hilang atau tidak dilakukan oleh imam-imam di masjid ahlul bid’ah. 

Sebenarnya apa rahasia sunnah bagi imam untuk menghadap ke makmum sebelum  dan sesudah shalat, mengatur dan mengingatkan untuk meluruskan dan merapatkan shaf. Tentunya, sebagai seorang pemimpin atau imam harus benar-benar melihat dan memperhatikan nasib dan keadaan rakyat atau jamaah yang dipimpinnya.

Hilangnya kedua sunnah tersebut di masjid-masjid ahlul bid’ah selain membuktikan hadis  "Tidaklah suatu kaum melakukan suatu bid’ah, kecuali akan terangkat Sunnah yang semisal dengannya."   juga merepresentasikan kalau para imam atau pemimpin-pemimpin kaum ahlul bid’ah tidak memperhatikan keadaan ummatnya.

Fenomena di atas, silahkan dibuktikan sendiri dengan mengunjungi masjid-masjid ahlul bid’ah dan masjid-masjid anti bid’ah.

Wallahua’lam.




Ref:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ مَنَاكِبَنَا فِي الصَّلَاةِ وَيَقُولُ اسْتَوُوا وَلَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ

“Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam dahulu mengusap bahu-bahu kami dalam shalat (ketika akan shalat) dan menyatakan: "Luruskan dan janganlah shaf kalian bengkok sehingga berakibat hati kalian berselisih." (HR Muslim)


أَقِيمُوا الصُّفُوفَ وَحَاذُوا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسُدُّوا الْخَلَلَ وَلِينُوا بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ

“Luruskan shaf, ratakan bahu-bahu kalian, tutupi celah dan bersikap lunaklah terhadap tangan tangan saudara kalian.” (HR Abu Dawud)


سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلَاةِ

“Luruskanlah shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya lurusnya shaf termasuk kesempurnaan shalat.” (HR Muslim)


عن سمرة رضي الله عنه قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا صلى صلاة أقبل علينا بوجهه

“Dari Samurah radhiallahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bila selesai shalat, beliau menghadapkan wajahnya kepada kami.” [HR. Bukhari]